Calon Rektor ITB 2010
Setelah menjabat 3 tahun, Djoko Santoso terkesan belum mempunyai prestasi yang signifikan di mata para sivitas akademika dan pemegang kepentingan ITB (MWA, Alumni, PemKot, Presiden, dll.). Sivitas akademika semakin sibuk dengan urusan sendiri mencari sesuap nasi sementara ruang gerak untuk berkreasi dan berinovasi di dalam ITB sudah sangat dibatasi dengan berbagai peraturan yang rumit.
Bila tidak ada inovasi sosial dari Djoko Santoso, sudah saatnya memikirkan siapa yang menjadi pengganti beliau di tahun 2010. Kalau tidak dibicarakan sekarang, ITB akan menghadapi krisis kepemimpinan. Siapa yang peduli?
Kita bisa memulai dari ITB dulu berdasarkan rekam jejak yang kita bisa himpun dari kegiatan ITB sehari-hari. Mereka yang masuk dalam top 25 adalah:
1. Prof.Dr. Adang Surahman, pakar teknik sipil yang saat ini sebagai wakil rektor senior bidang akademik.
2. Dr. Alibasyah Siregar, calon profesor teknik industri yang cerdas dalam keilmuan organisasi.
3. Prof.Dr. Deny Juanda Puradimaja, putra Jabar yang menjadi birokrat di Pemda Jabar.
4. Dr. Isnuwardianto, sekarang jadi birokrat di Jakarta dan cemerlang dalam mengerem mahasiswa yang nakal.
5. Noorsalam R. Nganro, Ph.D, setelah dipecat dari LPPM sekarang berkibar mengembangkan industri bioteknologi.
6. Prof. Dr. Satrio Brodjonegoro, kalau tidak jadi menteri akan melamar menjadi rektor.
7. Dr. T.A Sanny, seorang yang peduli akan kemajuan ITB.
8. Prof.Dr. Made Emmy Relawati, pakar geologi yang cinta riset
9. Dr. Kombaitan, saat ini menjadi sekretaris rektor dan kurang tidur mikirin imej ITB yang semakin pudar
10. Dr. Akhmaloka, saat ini dekan FMIPA dan calon profesor ilmu kimia
11. Intan Ahmad, Ph.D., pemain karate yang lagi menjabat dekan sekolah biologi (SITH), punya tampang, berhasil meningkatkan pendanaan riset, dan punya visi ke depan.
12. Dr. Tutus Gusdinar Kartawinata, dekan sekolah farmasi yang kalem dan berpengalaman di LPPM.
13. Prof. Dr. Ir. Sudarto Notosiswojo, M.Eng., dekan yang melanglangbuana dalam bisnis mineral dan perminyakan.
14. Ir. Dwiwahju Sasongko, M.Sc., Ph.D., berpengalaman menjadi dekan FTI dengan prodi yang terbanyak di ITB.
15. Dr. Puti Farida Marzuki, seorang wanita besi yang memimpin FTSL, cukup akomodatif, dan punya konsep.
16. Ir. Iwan Sudradjat, MSA., Ph.D., dekan planologi dan arsitektur yang kalem.
17. Dr. Biranul Anas Zaman, dekan FSRD, harapan memimpin ITB dari para seniman supaya ITB makin cantik dan seksi.
18. Ir. Lambok Hutasoit, Ph.D., dekan fakultas baru yang berapi-api, mungkin cocok untuk membangun ITB yang sudah loyo.
19. Prof. Dr. Ir. Ofyar Z. Tamin, memimpin sekolah master dan doktor, pakar transportasi dan sangat dikenal luas di kalangan dosen ITB.
20. Dr. Sukirno, pakar fisika, pemimpin muda yang malang melintang di MWA dan SA.
21. Prof.Dr. Yanuarsyah Haroen, pakar konversi energi listrik, konon kabarnya menjadi ketua senat ITB tahun 2009-2010.
22. Prof.Dr. Arief Suradiyo Sudarsono, pakar mineral yang saat ini menjabat jadi sekretaris SA ITB.
23. Prof.Dr. Rizal Z. Tamin, punya wawasan luas, senang berwacana dan bermimpi, bagus untuk membawa ITB punya cita-cita.
24. Prof.Dr. Rudy Sayoga Gautama Benggolo, anggota tim Indonesia 2030, tahu bagaimana berbinis dalam bidang riset dan teknologi.
25. Prof. Hasanuddin, Ph.D., risetnya yahud dan semangatnya boleh juga.
Apa yang dibutuhkan ITB? Pemimpin yang mengayomi dan membuat ITB tidak kehilangan martabat, tidak sombong, dan tidak membuat ITB makin miskin dan malarat.
Apakah ITB akan memilih yang tua (angkatan < 1974)? Atau yang muda (angkatan > 1975)?

Anwar Bahan Bacaan: Pikiran
Anwar
Bahan Bacaan:
Pikiran Rakyat
Minggu, 30 Januari 2005
Djoko Santoso Resmi Menjadi Rektor ITB
BANDUNG, (PR).-
Prof. Djoko Santoso resmi menjadi Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2005-2010, Sabtu (29/1), menggantikan Dr. Adang Surachman yang sebelumnya menjabat Rektor ITB Pjs. pengganti Kusmayanto Kadiman yang terpilih menjadi Menristek. Acara pelantikan dihadiri sejumlah pejabat, baik dari lingkungan pemerintah pusat, pemerintah daerah Jabar, lingkungan civitas academica ITB, dan Majelis Wali Amanat (MWA) ITB.
Ketua MWA ITB, H.S. Dillon, mengatakan, ITB harus kembali tampil memberikan teladan, antara lain dengan menemukan pilihan teknologi yang senapas dan selaras dengan kebutuhan rakyat. Semua itu ditujukan demi mewujudkan masyarakat adil makmur sebagai hakikat hidup merdeka.
Melalui ITB, menurut Dillon, teknologi harus mampu tampil sebagai garda depan pembangunan kebudayaan Indonesia yang maslahat untuk melakukan pembangunan berdasarkan paradigma people driven. Ia juga menyebutkan, keputusan pemerintah untuk memberikan otonomi kepada perguruan tinggi merupakan peluang emas yang harus dimanfaatkan secara cerdas oleh seluruh civitas academica ITB. "Saat ini, ITB bukan lagi kepanjangan tangan dari kuasa pihak lain, manakala kita kelola kebebasan ini berdasarkan good governance, kita akan menjadi sehat," katanya.
Good governance itu pula, kata Dillon, dapat menentukan masa depan ITB sendiri. "Oleh karena itu, untuk mencapai ke arah sana diharapkan ada komitmen yang sungguh-sungguh dari dosen, pegawai, dan mahasiswa untuk menjalin kemitraan dan melangkah maju bersama," ucapnya.
Dikatakannya, ITB juga hendaknya bersungguh-sungguh membuka diri pada perkembangan pemikiran di bidang teknologi yang berperikemanusiaan, menghormati keberlanjutan, dan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang lebih adil dan manusiawi. "ITB sudah selayaknya mengutamakan nurani dalam berkarya untuk mencegah timbulnya teknologi yang merendahkan martabat manusia dan kemanusiaan," demikian Dillon.
”Track record”
Presiden Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM-ITB), Anas Hanafiah mengatakan, harapan dan masa depan ITB sekarang tertumpu pada diri Djoko Santoso, rektor terpilih. Kelompok mahasiswa menanggapi positif atas terpilihnya Djoko Santoso sebagai Rektor ITB yang baru.
"Jika dilihat dari track record-nya, Djoko Santoso termasuk kelompok orang yang kritis terhadap kepemimpinan rektor terdahulu. Dia termasuk orang yang berbeda kutub dengan Pak Kus (Kusmayanto Kadiman, Rektor ITB terdahulu -red.). Kalau Pak Kus menganggap ITB sebagai korporasi, Pak Djoko menganggap ITB sebagai institusi akademis. Saya juga melihat akan banyak kebijakan yang dianggap kontroversial akan dibenahi. Mungkin ke depannya wajah ITB akan berbeda dengan wajah dahulu," kata Anas Hanafiah.
Seperti diketahui, pada November 2004 lalu panitia pelaksana pemilihan Rektor ITB 2005-2010 menetapkan 17 nama calon nomine yang terdaftar di panitia. Selanjutnya, masyarakat dipersilahkan memberikan masukannya terhadap nama-nama nomine yang telah lolos verifikasi tersebut.
Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan oleh panitia pemilihan Rektor ITB, nama-nama nomine yang lolos verifikasi itu adalah; Dr. Adang Surahman, Dr. Alibasyah Siregar, Prof. Dr. Dadan Umar Daihani, Dr. Deny Juanda Puradimaja, Prof. Dr. Djoko Santoso, Falatehan Siregar, Ph.D, Prof.Dr. Harsono Taroepratjeka, Dr. Iftikar Sutalaksana, Dr. Isnuwardianto, Noorsalam R. Nganro, Ph.D, Dr. Rhiza R. Sadjad, Prof. Dr. Satrio Brodjonegoro, Dr. Sugeng Purwanto, Dr. Sukamadjaja Asyarie, Dr. T.A Sanny, Dr. Taufikurahman dan Dr. Tutuka Ariadji.(A-132)***
Gw lebih milih pak Song
Gw lebih milih pak Song a.k.a Dwiwahjoe Sasongko
-0-
http://tribas.wordpress.com