Ketika ITB mulai melarang OS

Boleh dibilang, mungkin hanya Indonesia yang ada OS-nya, mungkin hanya ITB yang OS-nya disusun secara sistematis. Alasan klasik dari pihak rektorat bahwa OS adalah tindakan tidak berguna dan sia-sia sepertinya harus dikaji ulang. OS = orientasi studi. Setiap masuk ketempat yg baru selalu diperlukan adanya orientasi medan. Bagaimanapun juga adaptasi dengan lingkungan baru selalu diperlukan. Orientasi medan seperti karakter teman-teman seangkatan, karakter orang-orang lama, lingkungan kehidupan kampus, sistem akademik, harus diketahui, baik secara pasif maupun lewat inisiatif. Ini juga berlaku buat dilingkungan kerja juga. Kondisi sosial ekonomi mahasiswa baru yg rata-rata saat ini dari kota besar dan ekonomi menengah keatas memiliki sifat lebih resistif terhadap lingkungan baru. Meskipun cara pikir mereka lebih terbuka akan tetapi kemampuan untuk menerima keberadaan orang / sistem lain lebih resistif. Fenomena-fonemena geng-geng kecil akan mulai bermunculan berdasarkan pada asal SMA dan daerah asal, sedangkan mereka yang kaum minor akan semakin terminorkan meskipun ada kemungkinan untuk membentuk geng minor. Boleh dibilang mekanisme untuk mengurangi resistansi tersebut dan meningkatkan sosial network antara mereka yang masih efektif ternyata jawabannya lewat OS. Pengumpulan masal, pengelompokan dalam latar belakang yang berbeda-beda, bekerjasama dalam masa adaptasi yang singkat sebenarnya mampu untuk mengurangi resistansi tersebut. Kondisi dalam keterpaksaan dan tekanan kadang diperlukan agar paling tidak mereka punya pengalaman disana karena bagaimanapun juga itu menggambarkan kondisi di masyarakat saat ini. Ada paradigma yang salah dengan ITB ketika mereka mengesampingkan pendidikan adaptasi pada lingkungan / kehidupan sosial. Bagaimanapun juga meski diarahkan jadi kuli MNC pun, kemampuan adaptasi itu tetap ada, bahwa meskipun sehebat apapun kita tetap butuh keberadaan orang lain. Nah bagaimanakan lulusan ITB yang sama sekali belum pernah mendapatkan OS. Memang selain OS, ada mediasi lain simulasi kehidupan bersosial, bahkan selama kuliahpun bisa juga, tergantung subyeknya, tapi bagaimanapun juga segala bentuk media untuk pembelajaran kehidupan sosial ini harus dibuka agar memberikan kesempatan bagi yang ingin belajar dan mengajar. Ada baiknya OS kita kembalikan sebagai bagian dari kehidupan belajar dan mengajar. Tidak ada yg pernah salah dgn OS karena tidak ada kata yang salah dengan proses belajar mengajar, tapi selalu ada konsekuensi dalam proses tersebut.

oki
okkyjelly.blogspot.com

Kalo anda yang mati gimana

Kalo anda yang mati gimana bos??

Kalo ada yang mati? Ya kubur

Kalo ada yang mati?
Ya kubur aja. :D

in god we trust all other our monitor

apa hubungannya OS ama mati?

apa hubungannya OS ama mati?

orang lagi maen bola aja ada

orang lagi maen bola aja ada yang mati.. kenapa PSSI ga dibubarin.. tapi orang maen gulat ada yang mati.. WWE dilarang tayang..

bukan masalah matinya bos..

Ketika membuat pernyataan

Ketika membuat pernyataan "mungkin hanya ITB yang OS-nya disusun secara sistematis", "okkyjelly" sedang membuat pernyataan tentang OS-KM, atau OS di tingkat prodi/jurusan, atau OS yang mana? Karena di masa lalu, bentuk-bentuk OS di ITB amatlah beragam. Sedemikian beragamnya sehingga amatlah sulit membuat pernyataan "yang benar" yang bisa mewakili ciri-ciri OS di ITB.

:-)Muhamad

OS bisa jadi kritik bwt apa

OS bisa jadi kritik bwt apa yang dipelajari dikelas,
OS kan 'bahas' fenomena yang sedang dijalanin. OS ada dan dalam kenyataan. moga aja disadari sama panitia OS

Kalau kita lihat, tahun 1996

Kalau kita lihat, tahun 1996 OS gabungan ditiadakan karena tahun sebelumnya ada mahasiswa yang meninggal berkaitan dengan OS. Tahun 1997, ITB masih melarang OS gabungan, namun dengan kompromi tertentu KM mengadakan OS di sela-sela acara interaksi himpunan. Ada pro dan kontra mengenai pelarangan OS. Apakah tanpa OS tidak bisa dibuat social network? lihat Friendster. Itu contoh social networking site. Ada OSnya nggak? Apakah OS selalu menghasilkan generasi yang peduli dengan tanah air, bangsa, dan almamater? Lihat saja Laks. Apakah kalian berpendapat generasi ITB yang setelah gemblengan OS bisa memperbaiki Indonesia? Lihat saja BUMN-BUMN, banyak diantaranya yang dipimpin oleh alumni ITB tetapi tetap saja sarat dengan korupsi. Dan alumni ITB di sini adalah hasil dari gemblengan OS jaman dahulu.
Saya pribadi tetap tidak bergeming dari pendapat saya 10 tahun yang lalu, bahwa ada banyak kegiatan yang lebih baik bagi mahasiswa baru daripada mengikuti OS. Begitu pula senior saya yang angkatannya 7 tahun di atas saya.
Namun, jika yang dimaksud OS adalah kegiatan mengenali gedung-gedung di kampus, letak jurusan-jurusan, serta organisasi-organisasi mahasiswa yang ada di sana, tanpa embel-embel pemberian tekanan yang konon bertujuan mempererat hubungan sosial, tampaknya saya tidak ada keberatan mengenainya.
Peace ya, ki.. Namanya juga komentar :)

Merangkum apa yang sudah

Merangkum apa yang sudah diungkap saudara2 di atas,ada poin2 yang ingin saya ungkapkan...
1. Memang tidak jelas,OS dalam pengertian apa... Setau saya OSKM yang dilarang,sedang OS himpunan sebenarnya masih ada (walau ada beberapa him yang dibekukan karena OS-ny kelewatan,yg secara tidak langsung OS-ny jg ditiadakan)
2. Memang tidak jelas akhir2 ini tujuan OS itu sendiri apa. Nama OS yang diusung membawa kesan latihan a la militer yang keras, digembleng seperti zaman2 ITB masih diduduki oleh militer. Bukankah ITB sudah menjadi BHMN yang merdeka? Berarti sudah tidak perlu lagi pelatihan a la militer.
Pemecahan yang baik antara lain melalui PMB 2007. Acara yang menggabungkan keinginan rektorat dan KM. Dengan meniadakan unsur kekerasan,namun lebih mengakrabkan mahasiswa baru yang berasal dari berbagai latar belakang agar tidak terbentuk "geng-geng".
3. Memang OS tidak menjamin seseorang akan menjadi lebih baik dalam bersosialisasi. Bisa jadi malahan meninggalkan trauma (bila terjadi kekerasan...dalam hal ini OS pada himpunan tertentu misalnya...). Tentu saja masih banyak kegiatan yang lebih mendukung. Pengenalan lingkungan kampus, kesibukan yang harus dihadapi, berbagai tantangan, tapi tentu saja bukan pendidikan militer yang berbau kekerasan fisik. Kalau ingin pendidikan militer,tentu saja ITB bukan tempat yang tepat...
4. Saya pribadi merasa nasionalisme yang ditanamkan dalam acara OSKM seringkali berlebihan. Kita memang berada dalam instansi negara, dibiayai negara (rakyat tepatnya), dan sudah tentu tugas kita berbakti pada negara. Namun apakah perlu dilakukan indoktrinasi idealisme,yang rasanya tidak bermanfaat? Secara pribadi saya ingin menanyakan, kemana rasa nasionalisme yang ditanamkan selama OSKM dari zaman dahulu,yang ditanamkan pada senior2 kita,para alumni yang kini menjabat? Kemana semua itu,kalau yang dihasilkan hanyalah para birokrat2 yang ahli bersilat lidah,lihai berkelit,pintar berdalih,padahal mengeruk kekayaan alam Indonesia demi keuntungannya sendiri tanpa mengingat jasa para rakyat yang telah membiayainya semasa di ITB?

Mungkin hal2 ini yang perlu dikaji. Tidak ada unsur penyerangan,ini hanya pendapat pribadi semata, yang tentu saja demi kebaikan ITB.

Bukankah kita semua ingin yang terbaik bagi ITB? Karena kita satu,satu ITB!!!

hmmm kalo ngomongin

hmmm
kalo ngomongin OS...
OSKM sih kayanya ga ada masalah ya, toh bisa tetep jalan (biarpun ada persyaratan ganti nama, tinggal ganti aja..)
kalo masalah os himpunan.. hmm klo dibilang tujuannya ga jelas sebenernya nggak juga, tujuan mah pasti bagus lah, materi juga pasti bagus lah, tapi mungkin yg diributin sama rektorat tuh cuma masalah metode...

gw jg ngerasain soal os yg dilarang, tapi klo gw pikir2 lagi, ya wajar mereka ngelarang os dgn metode lama, masih ada banyak bgt metode yg bisa dipake utk tujuan kebersamaan... gw sepakat dengan pemberian tekanan utk kebersamaan, tapi tekanan itu ga harus dalam bentuk fisik, terkesan kurang intelek...

Ada satu yang unik

Ada satu yang unik sebenarnya yang saya rasakan semenjak ITB melarang OS. Yang gencar-gencarnya tahun 2004. Saya termasuk salah satu tim pembuat acara dalam interaksi di jurusan. Ada beberapa hal yang ingin dituju, well, hanya satu klo ditelaah dengan baik. Yaitu kebersamaan. Karena dengan adanya kebersamaan muncul adanya kepedulian sesama dan jika itu terjadi semuanya akan menyusul (mis; saling menghormati)setidaknya membantu mereka dalam menjalankan kehidupan akademiknya yang bisa dibilang sangat susah. Dulu, jika saya tidak bisa saya biasa mendatangi senior-senior saya untuk bertanya (para asdos) di lab mereka walaupun tidak kenal baik namun mereka tetap membantu dengan senang hati.Dengan dosenpun juga memiliki rasa hormat yang baik. Bila teman-teman saya kesulitan pelajaran terlebih yang 'kasus' yang lain tidak pernah lelah untuk membantu mereka agar tidak DO.
Tapi ada yang anomali disini. Semakin waktu os semakin tidak fisik mungkin mental juga tidak, tapi fisik yang paling 'terlihat' dikalangan orang luar. Namun semakin berkurangnya fisik semakin berkurangnya sifat-sifat yang telah saya paparkan sebelumnya pada setiap angkatan sehingga semakin lama mahasiswa ITB menjadi manusia individualistis.
Pertanyaannya : Apa kita harus di kasarkan sebelum bisa peduli pada orang lain?? Apa anggapan orang akan dapat bersatu dalam kesusahan itu benar??
Yah kita lihat saja hasilnya (^^;)