tidak provokatif

Pada campus meeting beberapa waktu yang lalu (18/7), Rektor Pak Djoko menyatakan pandangannya tentang kampus sebagai suatu proses singkat dan masa kuliah adalah bukan segalanya. Suatu pernyataan yang menurut saya tak terduga, dan terkesan melenyapkan karakter mahasiswa. Lebih dari itu, mendistorsi manusia sebagai makhluk yang berpikir. Acara selama sekitar 2 jam tapi minim dialog ini cukup menggambarkan kondisi kebijakan kampus yang represif dan telah berjalan secara wajar dengan ’dibentuknya’ lingkungan kampus (buatan) yang berkesadaran naive dan pseudo-rasional. Kapan terakhir kali aku merasa peduli? Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul. Dan tiba-tiba juga, saya teringat peristiwa reformasi ’98, semua yang terjadi telah mengantarkan kita ke titik ini (detik ini). Entah kenapa tiba-tiba saja ingin merasa perlu dibicarakan peristiwa jatuhnya sebuah rezim digantikan dengan berkuasanya kebebasan. Banyak hal diajukan pasca-reformasi, dan kita memang dibebaskan untuk memilih. Tapi, tahukah kita siapa yang bertanggung jawab atas setiap praktek kebebasan? Jika tidak bersiaplah untuk datangnya kekacauan. Lagi pula, merasa bebas hanya dengan memilih hanyalah omong kosong. Herbert Marcuse mengungkapkan kita bebas memilih dalam keterbatasan. Dengan nalar, daya cipta, manusia bener-benar menemukan kebebasanya. Apa yang sedang kita ajukan dalam hidup ini? Di era budaya instan ini, hiburan yang tanpa pemikiran pun dapat dengan mudah diterima. Tiba-tiba terpikirkan, di era pasca-reformasi ini pihak mana yang merasa paling diuntungkan?

Mahasiswa adalah sebuah status yang mengharuskan seseorang untuk objektif. Sejarah membuktikan, dengan sikap objektif, banyak hal telah dicapai. Seperti peristiwa Revolusi Perancis atau juga (misalnya) ilmu kedokteran, kita bisa pahami itu sangat berarti. Mahasiswa adalah manusia dengan kesadaran kritis. Dia mencari dan memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan. Tidak sekedar menerima sesuatu yang seolah-olah benar, atau bahkan menerima begitu saja pandangan praktis dan kesimpulan orang atau pihak lain. Mahasiswa adala pelajar yang menguji pengetahuannya. Dia menyadari pikirannya sebagai harapan terhadap rasa putus asa dan keacuhan. Sikap objektif menghasilkan pandangan yang tinggi tentang kehidupan. Sikap kritis memiliki pertimbangan keberlanjutan, hari depan.

Dalam ketidak menentuan yang sedang terjadi, norma dan kemapanan singgah dalam kepala kita untuk kita jalani. Dan semua yang kita jalani adalah cara hidup yang telah tersetujui. Gramsci pernah berpendapat: kekuasaan dibangun atas persetujuan pihak-pihak. Dan dengan kesadaran kita saat ini, saat semua tampak baik-baik saja, kita telah menyetujui hidup kita, kenyataan-kenyataan yang dihadapkan, dan kekuasaan yang sedang mendominasi. Mungkin kita sebenarnya hanya sedang menyutujui hidup kita, tidak lebih. Dan inilah yang dimaksud Freire sebagai kesadaran naive.

Kampus ITB bisa saja secara resmi berubah status dari PTN menjadi BHPN. Rancangan ini rencananya akan diresmikan pada..... Secara sederhana kita dapat memahami ini sebagai privatisasi pendidikan, yaitu pengelolaan pendidikan tanpa campu tangan negara. Secara wajar kita akan bertanya: bagaimana itu mungkin?, tidakkah menyalahi undang-undang?, apakah pemerataan pendidikan benar-benar dari negara dan untuk negara?, dsb. Dan mari kita perhatikan praktik BHPN di ITB, bagaimana penyelenggaraanya. Masihkah ITB berfungsi sebagai perguruan tinggi? hal ini masih perlu diperdebatkan, namun jika kita lihat gambaran umum di ITB hal itu menjadi sangat sulit diterima. Seperti kita tahu jarang ada perdebatan-perdebatan di kelas, jarangnya minat diskusi diluar kelas, bahkan space kampus ini masih jauh dari kesan pendidikan.

Sejak awal tahun 2... ITB menekadkan diri menjadi universitas teknologi di Asia yang menyamai MIT Amerika. Dan sampai sekarang, entah sudah sampai mana perjalanan ITB. Tapi Indonesia memang sudah cukup dikenal sebagai bangsa yang tanpa kejalasan akar sejarah. Sebuah bangsa yang seringkali terlepas dalam sejarahnya dan selalu memulai hal baru. Kenyataan yang unik ini memang seharusnya dipelajari dan dicari jawabannya. Saat ini, semoga kita diberi kemampuan membangun masa depan. Sepert kita tau teori ekonomi David Ricardo, atau kebijakan moneter Keynesh, atau juga kebebasan TV dan media-media lain seperti iklan, tidak selalu bersesuaian dengan kebutuhan Indonesia. Dan kini ITB akan mengadopsi BHPN,MIT, dan mungkin akan terus hanyut dalam perubahan-perubahan. Tidak seperti yang dikatakan dalam film The Last Samurai: ’old way have join the new’, Indonesia mungkin sudah merelakan diri kebingungan tanpa akar sejarah. Dan sebagai penerima perubahan, adakah yang terpikirkan tentang orientasi perubahan-perubahan tersebut?

Ya.. campus meeting kemarin cukup dapat menjelaskan kondisi ITB. Perubahan ITB menjadi BHPN menjadi sesuatu yang sangat rentan, mengingat kemandirian pendidikan dalam masa percobaannya malah terkesan sebagai praktek kemandirian ekonomi. Dan sepertinya semua kebijakan yang dikeluarkan ITB hanya berdasarkan pertimbangan analisa ekonomi, bukan pendidikan. Dan perlu kajian yang mendalam atas pembatasan masa studi, hanya berorientasi IP, dan absensi kelas. Pendidikan tentu cenderung dibangun melalui diskusi bukan kesendirian. Merujuk Thomas Kuhn, kemajuan tertandai dengan terbaharuinya normal science, sebuah koreksi pada kekeliruan paradigma yang sedang berlaku. Perlu hal lain yang melebihi hanya belajar di kelas, untuk menjadikan Indonesia sebagai bukan ’negara pengekor’. Pendidikan adalah aspek penting negara, perlu dijalankan dengan penuh perhatian dan pertimbangan. Perlu aktivis pendidikan untuk bidang pendidikan. Dan persoalan BHPN ini menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan dengan praktek privatisasinya. Hilangnya filosofis pendidikan sudah cukup membuktikan kekeliruan praktek dan perubahan orientasi. Apa yang saat ini menjadi tujuan pendidikan? praktek represif dalam perguruan tinggi? penghilangan karakter mahasiswa? dan apa yang mungkin kita bayangkan tentang hari depan?

Dan saat ini, penyelenggaraan pendidikan di ITB tampak tidak masuk akal. Dengan sejarah nama besar ITB cukup tertolong dengan persaingan inputnya, namun entah akan dibawa kemana. ITB terus membangun prestise bagi mahasiswa baru dengan pembangunan sarana, penaikan ranking yang juga akhirnya terkait dengan jumlah modal dana, dan juga riset perorangan dalam keilmuan yang sekedar memungkinkan datangya penghargaan. Setelah semuanya apa yang mungkin kita harapkan....

'Teman' kita yg satu ini

'Teman' kita yg satu ini memang amat sangat simplistis, se 'simpel' penampilannya. Banyak komen2nya di hajatan resmi ITB juga cenderung seperti itu, sampai kita2 sering trenyuh mendengarnya ...

Udah ah ... segini dulu sekedar ujicoba situs ini, sebab barusan terima selebaran via pos ttg keberadaan situs ini. Cuman yg ada disini kok nggak se 'keras' yg ada di selebaran ya ? atau aku aja yg belum nemu ? maklum males browsingnya ...