Republik Mimpi Batal Tampil ke ITB

Republik Mimpi yang seharusnya tampil di ITB pada hari Senin tanggal 26 November yang lalu, batal tampil di ITB karena dilarang oleh rektorat dan ada rumor bahwa panitia diancam untuk disidang bila acara tersebut berlanjut. Namun, menurut berita yang didapatkan dari Kompas Online (http://www.kompas.com/ver1/Hiburan/0711/26/182317.htm) tidak ada larangan sidang untuk panitia.

Alasan yang utama yang melatarbelakangi tindakan rektorat tersebut adalah bahwa tidak adanya korelasi antara tema acara yaitu membangun profesionalisme dan idealisme didunia kerja dengan datangnya Republik Mimpi yang bernuansa hiburan.

Alasan yang lain adalah mengenai masalah administrasi. Menurut sumber yang merupakan salah satu dosen arsitektur, rektorat melarang hal tersebut karena dalam proposal yang dikirim pihak rektorat tidak disebutkan sama sekali mengenai republik mimpi. Sementara, alasan dari panitia adalah bahwa mereka belum yakin akan memanggil Republik Mimpi dengan alasan dana. Namun setelah dana tersebut turun, pihak Republik Mimpi didatangkan untuk tampil. Masalahnya adalah, rektorat tidak diberitahu oleh panitia mengenai perubahan tersebut dari jauh-jauh hari, namum pada hari H-3.

Kebijakan rektorat mengenai masalah ini, benar-benar telah merusak mimbar akademis kampus yang notabenenya bebas. Alasan-alasan sederhana yang telah dikemukakan tersebut seharusnya dapat disikapi dengan bijak oleh rektorat sehingga asas kebebasan tersebut tidak dilanggar. Padahal, komunikasi politik yang ditunjukkan oleh Tim Republik Mimpi, yang kaya akan hiburan namun juga padat makna dan analisa, dapat memberikan pelajaran kepada mahasiswa yang nantinya akan terjun ke masyarakat tentang bagaimana caranya untuk mengkritik atasan dengan elegan dan profesional sambil menjaga idealisme mahasiswa.

Saya juga lihat Rep Mimpi

Saya juga lihat Rep Mimpi edisi tsb. Komen saya awalnya adalah: wah ini acara disaksikan banyak publik Indonesia, walaupun saya tidak tahu persis berapa orang yang menonton itu. Ini bisa jadi black advertise untuk ITB, karena dengan gamblang (di edisi tsb) disebut2 ancaman skors dari rektorat jika panitia tetap memanggil tim Rep Mimpi. Ini black advertise ke seluruh Indonesia lho, termasuk ke orang tua calon mahasiswa ITB nanti.
Bagaimanapun juga, itu kan satu sumber, saya sebenernya pingin denger versi rektorat bagaimana, dan versi panitia bagaimana.
Walaupun Rep Mimpi terkenal dengan antusiasmenya mengangkat demokrasi berpendapat, toh selalu ada kemungkinan juga mereka belum tentu benar.
Posting di atas saya belum bisa nilai apakah ini sumber rektorat atau panitia, atau bukan dua2nya. Mis: bagaimana salah satu dosen arsitektur koq bisa tahu mengenai ini... apakah beliau menjabat di rektorat atau salah satu penyelenggara acara begitu?
Mohon diklarifikasi.

hmm... kami menanyakan hal

hmm... kami menanyakan hal ini kepada salah seorang panita dan untuk dosen arsitekturnya, beliau hanya dosen biasa yang tak setuju dengan acara tersebut. Dan pernyataan beliau juga tidak resmi. silahkan menilai.

saya rasa hal yang bagus

saya rasa hal yang bagus rep. mimpi memberikan pernyataan seperti itu, walaupun tampak seperti menfitnah ITB..
Tapi beberapa dari kita pernah juga mendapatkan ancaman DO untuk beberapa kegiatan yang ingin kita lakukan... Meskipun kegiatan mengundang rep.Mim ini tidak ada ancaman DO nya..

Mohon maaf kalau saya ada perbedaan pendapat..