ITB Boneka Kaum Imperialis dan Pemerintahan Korup

Babakan siliwangi adalah ruang terbuka hijau (RTH) berupa hutan kota yang terletak di Jalan Siliwangi, Bandung, Jawa Barat (Jabar). Tempat ini telah berdiri sejak tahun 1960-an, dan ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan yang berbatang besar yang biasanya tumbuh di kawasa hutan. Rimbun pepohonan menjadikan daerah sekitarnya cukup sejuk. Selain tiu kawasan ini sangat terkenal karena terdapat banyak titik mata air yang salah satunya memiliki debit 0,7 liter per detik.
Berdasarkan peta geologi Bandung Babakan Siliwangi adalah daerah dengan ketinggian mencapai 800 meter diatas permukaan laut dan merupakan daerah resapan air, karena itu idealnya babakan siliwangi ditumbuhi dengan berbagai macam tumbuhan sebagaimana diungkapkan oleh Sobirin sebagai salah satu dari Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS). "Dengan kondisi tanah yang seperti itu, idealnya daerah Bandung utara dan barat banyak ditumbuhi pepohonan untuk menyimpan cadangan air," ujar Sobirin.
Ironisnya terdengar kabar yang sepertinya bukan kabar burung lagi. Bahwa di Babakan Siliwangi akan dibangun pusat permukiman dan perdagangan seperti apartmen, mall, rumah makan dan sebagainya. Rencana ini telah dimatangkan oleh pihak investor diajukan ke DPRD kota Bandung. Dan segera saja mendapat dukungan dari mereka.
"Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menilai kawasan Babakan Siliwangi yang selama ini masih memiliki banyak ruang terbuka dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha masyarakat. Jadi, kami memutuskan untuk bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengelola kawasan itu," kilah Edi Siswadi.
"Berdasarkan data yang kami peroleh, sebenarnya fungsi resapan air di kawasan itu sudah merosot tajam karena berkembangnya permukiman di sekitar daerah itu. Jadi, kami justru mengharapkan peran investor untuk mengembalikan fungsi resapan air di kawasan itu dengan teknologi tinggi," tutur Edi.
Pernyataan diatas sungguh aneh dan terkesan mengada-ngada. Apa yang diharapkan dari para investor untuk mengembalikan fungsi resapan air?. Apakah hal ini menguntungkan bagi mereka? Retorika yang dangkal ini tentunya hanya diucapkan agar terkesan memperdulikan ucapan-ucapan para pemerhati lingkungan. Alasan sesungguhnya tentu karena uang yang masuk kantong dari para investor itu sungguh menggiurkan. Ini sudah menjadi lagu lama. Bukan yang pertama kalinya kawasan hutan dibuka untuk permukiman dan perdagangan, sebut saja alun-alun Bandung dan kawasan Puncrut.
Membebet kawasan hutan kota atau hutan lindung telah menjadi kebiasaan kronis para wakil rakyat di kota Bandung. Parahnya kebiasaan tersebut semakin menjadi-jadi setelah mendapatkan angin dukungan dari sebuah Institut terkemuka di kota Bandung, Institut Teknologi Bandung. Rektor ITB ikut serta memberikan dukungan atas rencana ini, bahakn developer yang sedang mengembangkan rencana ini, sebagian anggotanya berasal dari ITB.
Pihak birokrat ITB seringkali mengeluarkan keputusan-keputusan yang tidak populis. Kita mesti cermati kembali kasus PLTSa yang rencananya dibangun di Gede Bage. Justru ITB dijadikan tameng bagi kalangan pemerintah untuk menghempaskan mereka yang menolak rencana itu. Lagi-lagi ITB hanya menjadi boneka kaum imperialis dan pemerintahan korup.

boneka? ha ha ha.... baru

boneka?

ha ha ha.... baru tau?

-0-
http://tribas.wordpress.com